June 23, 2017

Beijing I Like You! [Beijing Winter Trip]

Beijing. Kota ini sungguh membuat saya jatuh cinta dengan suasananya, bentuk bangunannya banyak yang bervariasi gabungan klasik dan modern, serta transportasi umumnya yang sangat oke punya. Saya menghabiskan sekitar 5 hari di Beijing awal Januari saat musim dingin masih berlangsung dengan dinginnya (Ya iyalahh).


Semua berawal dari friendly ticket Air Asia alias promo kursi, gagal mendapatkan best price untuk tujuan Jepang saya dan istri beralih ke Beijing, yang ternyata tidak kami sesali sama sekali, banyak tujuan dan kegiatan yang bisa di lakukan di sana, sebagai salah satu kota tua di dunia, Beijing is truly amazing!


Saya sengaja pilih waktu transit di Kuala Lumpur sekitar 7 jam, agar menyempatkan pergi ke Cyberjaya, Selangor, ceritanya mau kasih lihat istri daerah tempat saya bekerja dan tinggal dulu, blast from the past gitu dan juga mampir sekalian makan siang di restoran vegetarian India langganan saya (tapi gagal karena lokasinya pindah agak jauh haha).





Setelah 7 tahun akhirnya saya kembali juga ke Cyberjaya, Mal yang dulu masih under construction kini berdiri kokoh meskipun suasana sekitarnya tetap seperti dulu, sepiii. Buat yang belum tahu, Cyberjaya adalah kota kecil yang berjarak sekitar 35 menit dari pusat kota KL, di mana banyak perusahaan bidang teknologi membuka kantor di kota ini, dan merupakan lokasi dua universitas ternama yaitu Lim Kok Wing dan Multimedia University.

Anyway, perjalanan dari KL ke Beijing memakan waktu sekitar 5 jam, yang kebanyakan kami habiskan dengan tidur selama di pesawat. Karena landingnya tengah malam dini hari, jadi kami tidak langsung ke hotel, tapi menunggu pagi di area bandara saja, tidur-tiduran di kursi sambil melihat orang-orang yang lalu lalang. Banyak juga yang sengaja menunggu pagi di area ruang tunggu setelah lepas dari konter imigrasi.


Hal pertama yang membuat saya kaget adalah saat menuju lokasi kereta Airport express yang melewati satu lorong menuju loket tiket di bawah, angin musim dingin berhembus kencang dan membuat saya agak kaget karena dinginnya minta ampun, maklum baru pertama kali ngalamin suhu di bawah minus nol derajat. Dari yang tadinya cuma jaketan dobel, langsung saya pasang kupluk sampai nutup telinga, sarung tangan dan scarf pun saya lilit sampai menutup hidung. Dingin bener eyy.

Kami menggunakan kereta supaya lebih cepat sampai di pusat kota. Airport express ini berhenti di stasiun Dhongzimen dengan harga 25 RMB, dan dari situ kami menyambung subway line 2, lalu pindah ke line 6 arah ke stasiun Dongsi yang merupakan daerah tempat hotel kami berada. Untuk membuat perjalan kamu lebih efektif, disarankan beli Yikatong card atau smart card yang bisa digunakan untuk naik subway, naik bus ataupun beli-beli di minimarket, harganya 50 RMB dengan isi 30 RMB dan deposit 20 RMB. Deposit ini bisa dikembalikan bila nanti kita ga mau pakai Yikatong card lagi di tukar di loket subway.


Sistem kereta api bawah tanah di Beijing cukup mudah di pahami dan sangat lebih membantu jika kita download aplikasinya, jadi ga perlu buka-buka lembaran peta, modalnya ya banyak jalan kaki hehe.Totalnya sudah ada 18 Line yang beroperasi, bandingkan dengan Jakarta yang saat ini baru sedang dibangun line pertama untuk MRT.



Keluar stasiun Dongsi, pastinya hawa dingin langsung menampar kulit wajah, dan jari tangan langsung cepat kaku karena sangat dingin, lebih baik masukkan ke kantong jaket kalau ga pake sarung tangan. Banyak sepeda berseliweran di jalanan, tidak heran karena Beijing adalah salah satu kota di dunia yang ramah dengan pengendara sepeda, ada jalur khusus dan parkiran khusus juga yang disediakan.





First thing first. Enjoy the scenery in town and selfie plus wefie sambil berjalan menuju hotel tempat kami menginap selama beberapa hari ke depan. Oh ya, karena kebijakan pemerintah sana yang memblok akses beberapa media sosial andalan yang biasa kita pakai, jadi sebelum berangkat download aplikasi seperti VPN master, VPN Proxy Master, Better net dll, supaya bisa buka-buka dan post di FB, Twitter, IG pastinya.





Baca selengkapnya

May 18, 2017

Garut Road Trip

Sejujurnya, saya belum pernah ke kota Garut. Dan kebetulan minggu lalu saya dan istri berkesempatan berkunjung ke sana, walaupun cuma sehari semalam.

Awalnya ide ini tercetus begitu saja, memikirkan ke mana kami akan menuju disaat libur panjang, road trip kecil dengan mobil kesayangan, selain ke Bandung. At the end, Kami berangkat ke Bandung terlebih dulu, dan keesokan harinya baru berangkat ke Garut.

Sebelum berangkat, saya dan istri browsing sana-sini mencari referensi tempat yang akan dikunjungi dan di mana akan menginap, sampai kemudian saya booking hotel Regata di Bandung dan Mulih K' Desa di Garut. kedua hotel ini saya book dengan Traveloka yang kebetulan ada promo bila booking hotel menggunakan apps nya. Rajin-rajin aja cek melalui apps ya.


Hotel Regata lokasinya cukup ok, persis di sebelah FO ngetop Rumah Mode di Jalan Setiabudi, jadi anda tinggal koprol sekali aja dari hotel. Awas boncos ya, karena kebanyakan belanja dan makan di sini haha.

Nah, yang cukup menarik adalah saat kami ke Garut, menginap di Mulih Ka Desa. Sebuah tempat yang menawarkan nuansa pedesaan, makan dan menginap di tengah sawah. Lokasinya dekat dengan Kampung Sampireun yang terkenal itu.



Nuansanya benar-benar seperti di perkampungan dengan area sawah dan pancuran air dari bambu yang mengalir dan mengeluarkan suara khas. Untuk yang membawa anak-anak, ada area mainan anak seperti ayunan, seluncuran dan jungkat-jungkit, juga bisa belajar membajak sawah dengan Kerbau yang ada di sana.

Areanya terdiri dari rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu, dan kita menginap di salah satu rumah tersebut, tergantung tipe apa yang kita booking. Buka pintu samping untuk ke teras dan pemandangan hijau sawah langsung terlihat. Saat pagi hari, sarapan di antarkan ke penginapan langsung, dan kita bisa makan di teras sambil menikmati udara pagi.





Pintu masuk Mulih Ka Desa cukup unik, berbentuk gerbang bambu yang disusun menjadi atap, serta kursi-kursi yang terbuat dari bambu juga. Di area depan terdapat banyak pondokan atau gazebo untuk orang-orang yang datang cuma hendak makan atau memesan makanan di restoran Mulih Ka Desa, harganya pun sangat rasional menurut saya.



Kami tentunya tidak cuma diam di penginapan, tapi juga sedikit mengeksplor Garut. Saat malam adalah waktu yang pas mencari pemandian air hangat yang sepertinya menjadi atraksi utama saat ke Garut. Nah, bila menginap di Mulih Ka Desa, kita akan dapat voucher untuk pemandian di hotel Titagangga yang terletak di area Cipanas. Di area ini pula terdapat pemandian Sabda Alam, Sumber Alam ataupun pemandian lainnya yang rata-rata juga memiliki tempat menginap.



Setelahnya, kami mencari info di mana tempat banyak makanan atau hangout di garut Kota. Akhirnya kami sampai di Pasar Ceplak, yang saat malam tiba dipenuhi pedagang-pedangan makanan (walau kebanyakan serupa makanannya hehe). Sempat melewati Alun-alun kota Garut, kami menanyakan seorang anak muda, apakah tempat itu ramai kalau malam hari, eh dia bilang nggak juga, jadi ya kami ga lanjut ke situ.

FYI, di atas jam 9 kota Garut sudah sepi loh, banyak warung-warung sudah tutup dan jalanan juga ga ramai. So, sebaiknya cari makan malam di bawah jam segitu aja. Kami nyasar beberapa kali saat hendak balik ke penginapan, walau pakai GPS karena beberapa belokan yang disarankan GPS tidak terlihat karena gelap hahaha.

Siang hari setelah check-out, kami naik ke Darajat Pass, yang lokasinya lebih ke atas dari Mulih ka Desa. Tempat ini merupakan sebuah area perbukitan yang disulap menjadi waterboom, pemandian air panas dan outbound area untuk rekreasi keluarga. Sebenarnya ada beberapa lokasi menarik lain disekitarnya, seperti Kawah darajat misalnya. Tapi kami mesti segera kembali ke Bandung, untuk kemudian balik ke Jakarta dari sana. So far it's a fun road trip for me and wife :)



Baca selengkapnya

January 17, 2017

Berburu Pakaian Musim Dingin (Winter Clothes)

Memasuki bulan Nov-Dec-Jan-Feb di banyak negara 4 musim identik dengan musim dingin, angin kencang yang membuat menggigil, suhu udara yang bisa mencapai minus derajat plus salju yang turun di beberapa tempat tertentu.

Bila hendak bepergian ke negara 4 musim, memasuki musim dingin alias winter tentunya memerlukan pakaian yang proper,  bukan sekedar jaket atau sweater biasa, serta pelapis bagian dalam atau penutup bagian-bagian lainnya. Hal ini perlu supaya tubuh kita sebagai warga tropis, tidak kaget saat mengahadapi perbedaan suhu yang drastis.

Dalam persiapan travel ke Cina, Saya dan istri mendatangi beberapa tempat untuk sekedar melihat-lihat, membandingkan dan akhirnya membeli perlengkapan musim dingin. Menurut kabar musim dingin di cina (Beijing) lebih terasa dingin dibanding negara lainnya. Saat saya datang sih suhu mencapai -5 0C, langsung saya kedinginan.

Anyway, beberapa tempat/toko yang kami datangi adalah sbb:

UNIQLO dan H&M
Terletak di mal-mal besar Jakarta, silakan kunjungi dua tempat ini untuk melihat koleksi jaket winter, syal maupun sepatu. Uniqlo punya Heattech yang berfungsi sebagai kaos dalam seperti longjohn untuk menjaga tubuh tetap hangat. Heattech ini juga punya levelan untuk berbagai kondisi dingin. Koleksi Jaket Uniqlo modelnya biasa saja menurut saya, tapi secara fungsi mungkin cukup oke menahan dingin.

Saya dan istri sempat naksir juga dengan jaket di H & M, harganya sekitar 600 rb dan modelnya cukup ok, tapi kami putuskan melihat-lihat tempat lain dulu. Istri saya membeli boots casual berlapis bulu angsa di dalamnya yang kebetulan sedang diskon di sini. Soal harga jaket, di kedua tempat ini ya pastinya agak tinggi dengan range sekitar 600  – sejuta lebih.

Pasar Pagi Mangga Dua

Toko Djohan
Toko ini ada di urutan pertama mesin pencari google kalau keyword kita soal perlengkapan musim dingin di Jakarta. Cukup banyak juga yang merekomendasikannya. Toko ini terletak di lantai 2 pasar pagi mangga dua. Saya ke manga dua naik kereta Commuter Line dari pasar minggu, turun di stasiun kota dan nyambung mikrolet sekitar 10 menit. Lebih hemat, efisien dan ga capek.
Jaket winter di toko ini lumayan banyak pilihan dan modelnya banyak yang ok, ada beberapa yang bermerk sepert Zara dll, ga tau sih asli apa palsu. Bajunya sudah pasti baru disini, kisaran harganya antara 600 – sejutaan lebih. Kami beli sarung tangan dan longjohn di sini. O iya, buat yang belum tau, longjohn itu sepaket ya, isinya baju kaos panjang dan celananya.




Toko Farina
Denger-denger ini adalah sister shopnya Johan, letaknya di lantai yang sama. Pilihannya juga beragam, tapi beberapa model jaket berbeda dengan toko Johan, saya sempat naksir juga satu jaket model army look, tapi sayangnya ga ada ukuran buat saya :D.
Kisaran harganyan sama sepert toko Johan 700 – sejutaan.

Toko Monica Jaya
Letaknya ga jauh dari toko Farina, istri saya beli thermal legging lapis kulit onta (bener gat uh) seharga 150 ribu setelah ditawar, dan selama di pakai di suhu -5 0C istri saya ok aja tuh. Dan saya beli sarung tangan kulit 120 rb. Di sini juga jual perlengkapan lainnya seperti topi rusia, glove, longjohn, model jaketnya juga variatif.

Rumah Mode Bandung
Saat kebetulan ke Bandung, kami mampir di sini, ternyata cukup banyak jaket musim dingin yang bisa dilihat dengan kisaran harga 500 – sejutaan, karena ini factory outlet, pastikan memilih barangnya teliti ya apakah ada sobek, bercak dll, dan banyak juga yang branded. Kalau kebetulan di Bandung, cek aja siapa tau cocok.

Mal Ambassador
Ada satu toko di lantai bawah, dekat pintu masuk utama mal, tapi model-modelnya kurang cihuy menurut saya, dan harganya sekitar 900-sejutaan.

Metro Building – Pasar Baru
Saya tau tempat ini dari istri yang dapat infonya juga hasil searching blog orang. Kalau kamu masuk dari pintu depan, yang dari arah gambir, gedung Metro ini terletak di area ujung lorong pasar baru sebelah kanan, lantai 2. Banyak toko-toko kamera juga di sini.

Ada beberapa toko yang menjual banyak macam jaket musim dingin. Barang yang dijual di sini adalah sisa export, bekas, tapi banyak sekali yang kondisinya sangat ok. Yang di jual pun beragam, dari Jas, tuxedo, jaket motor, sweater, celana dan pastinya jaket winter.

Saya dan istri akhirnya membeli jaket di sini. Istri saya dapat jaket yang cukup ok berlapis bulu angsa dengan harga 200rb. Sama dengan saya, jaket Airwalk yang cukup ok dengan harga 200rb juga. Sangat menghemat budget kan, apalagi ga sebulan sekali juga itu jaket tebel kita pakai. Buat yang budgetnya terbatas, saya sarankan coba cek tempat ini saja, memilih jaket winternya mesti pelan-pelan dan sabar ya sampai nemu yang model ok, warna ok dan harga ok J

Saran dari saya, benar-benar memilih jaket winter yang memang sangat ok menahan dingin, karena dingin di sana memang benar-benar dingin, ga kayak di puncak yaa. kalau ga yakin jangan di beli, tanya penjaga tokonya bila perlu. Siapkan earmuff untuk menjaga telinga ga kedinginan, kalau saya cukup pakai kupluk yang ditarik sampai telinga.

Sarung tangan mungkin kedengarannya ga terlalu perlu, tapi percaya deh, kalo ga biasa dengan dinginnya cuaca, tangan kita akan terasa kaku dan ujung-ujungnya masukin ke kantong terus, standby aja. Scarf atau syal juga jangan lupa, lebih bagus yang bahan wol kayaknya, nahan dingin dengan sangat cukup dan bisa nutupin sampai hidung (hidung saya kaku terus saat kena dingin di Beijing).

Oke selamat berburu pakaian musim dingin, and enjoy your winter holiday!
Baca selengkapnya

November 22, 2016

Ketika di Yogyakarta (Plus Travel Video)

Yogyakarta a.k.a Jogja. Begitu tenang dan segalanya terasa berjalan perlahan dan tidak terbebani. Itu yang saya rasakan saat berkunjung ke Yogyakarta beberapa tahun silam. Lalu saya berkesempatan datang lagi dua bulan lalu, dan rasa itu masih sama, I'm in love again with Jogja. 


Well, kecuali satu hal, sekarang kok banyak banget motor yang ngebut sabet kiri kanan dan suka asal ambil jalur orang, kayak di Jakarta yaaa. Kalau kata supir Grabcar yang saya naiki, kebanyakan adalah pendatang yang naik motornya seperti itu, warga Jogja lebih kalem saat dijalanan.

Dengan menggunakan kereta Senja Utama malam, saya berangkat dari stasiun Pasar Senen Jakarta pk. 19.00. Tiket yang saya booking online, terlebih dulu harus daftar check in otomatis di deretan mesin yang berjejer rapi dekat minimarket stasiun. It's easy and fast, plus selalu ada staff yang membantu bila kita bingung mengoperasikan mesin tersebut.


Saya memutuskan tidur sepanjang perjalanan, karena ga bisa lihat pemandangan juga di malam hari. Terbangun beberapa kali termasuk saat penumpang yang duduk sebelah saya sedang memesan makanan dari gerbong sebelah, wanginya nyam-nyam, dan antrinya juga nyam-nyam.

Tiba di Jogja sekitar pk. 03.00 dinihari, saya berjalan keluar stasiun dan langsung di hadang tawaran abang-abang becak, ojek dan taksi. Tapi saya memutuskan mencoba Gojek saja dari luar area stasiun untuk di antar ke hotel di area Ngadinegaran, dekat dengan alun-alun. Dan ya, jam segitu ternyata masih ada yang standby.

Tujuan saya ke Jogja sebenarnya menyusul istri saya yang sedang ada kerjaan di sana, dan kami punya waktu bebas 2 hari untuk sekedar kelilingan di pusat kota. Dengan waktu yang sempit kami tidak sempat mampir ke candi-candi maupun Merapi, jadi benar-benar hanya di sekitaran pusat kota.


Untuk mempermudah pergerakan berkeliling, saya memutuskan menyewa motor lewat hotel kami menginap. Harga standar 60 ribu untuk sehari penuh. Kebetulan hotel yang kami tempati dekat dengan area Prawirotaman, yang terkenal sebagai markasnya hotel-hotel budget terjangkau selain di Sosrowijayan yang dekat Malioboro. Tapi bukan berarti semuanya hotel budget, banyak juga hotel yang kelasnya di atas itu lho. Beberapa kali kami mampir ke area Prawirotaman sekedar duduk-duduk ngopi di salah satu kafe dan keluar masuk toko pernak-pernik handycraft yang banyak tersebar di area tersebut.





Oh ya, saat makan malam di Rumah Makan Chinese Lezat Medan di Jl Suryatmajan (bisa masuk dari Jl Malioboro), saya menemukan toko penjual pernak-pernik yang menjual beragam kerajinan tangan dengan harga lebih murah di banding toko-toko lainnya.


Terakhir, Check my Travel Video when in Yogyakarta. Silakan atuh di play videonya :)



Baca selengkapnya

June 24, 2016

The Camera Museum - Georgetown Penang

Bila berkunjung ke Penang, jangan lupa mampir ke The camera Museum, George Town yang di sebut sebagai Camera Museum pertama di Asia Tenggara. Lokasinya mudah di capai karena terletak di sekitaran area heritage turistik George Town, Tepatnya di 49, Lebuh Muntri.

Untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan bus nomor 204 dari Komtar terminal yang melewati lebuh Chulia (Chulia Street). Turun di halte Love Lane. Lalu jalan kaki telusuri Love Lane, sekitar 100 M ketemu jalan Lebuh Muntri di sebelah kiri, belok susuri jalannya dan ga jauh setelah belok itu bangunan museumnya ada di sebelah kiri.




Seperti banyak Artshop maupun kafe di sekitaran Penang, museum ini berada di bangunan-bangunan klasik arsitektur khas Cina yang masih di jaga kelestariannya. The Camera Museum akan membawa kita menjelajah waktu menelusuri bentuk-bentuk kamera foto sejak produksinya yang paling awal. Masuk dari pintu depan, kita di sambut dengan replika kamera klasik berukuran besar dengan nama The camera Museum Georgetown di atasnya, and yes kita boleh berfoto di situ. Di dinding kiri kanan terpajang beragam foto dan poster klasik, termasuk liputan tentang The Camera Museum di berbagai media cetak yang di bingkai. Disediakan juga jasa fotografer bila kita ingin di foto secara profesional di salah satu sudut museum.



The Camera Museum terdiri dari dua lantai, di mana lantai bawah terdapat kafe untuk ngopi-ngopi cantik, serta SnapShop, toko yang menjual beragam pernak-pernik tentang Camera Museum dan Penang. Meskipun tempatnya tidak besar, tapi ada beberapa spot-spot menarik untuk berfoto dengan latar mural atau beberapa props yang disediakan.



Lantai dua adalah tempat di mana semua kamera dipajang atau didisplay. Untuk diijinkan naik ke atas, kita mesti membayar admission fee sebesar 20 Ringgit untuk umum, sedangkan pelajar dan warga senior alias udah berumur cukup dengan 10 Ringgit. Kita akan mendapat souvenir gantungan kecil khas museum ini. Saya sudah dua kali berkunjung ke museum ini. Pertama kali sendirian, dan yang kedua kali bersama istri saya yang juga pertamakali menginjakkan kaki di Penang. Ada sedikit perubahan layout museum di banding terakhir saya kemari, tidak banyak tapi saya masih cukup ingat layout sebelumnya.



Di lantai dua inilah kita dapat melihat perkembangan kamera dari tahun ke tahun dari berbagai merk, juga melihat History of Camera melalui wall of fame yang tertempel di dinding. Lantai dua ini dibagi-bagi menjadi beberapa sekat ruangan, di mana tiap ruangan memiliki tema display kamera yang berbeda. Kita bisa lihat ruang kamera Obscura yang merupakan cikal bakal kamera modern. Bentuknya sangat unik dengan kotak kayu yang terpasang cermin untuk melihat refleksi objek di depannya. Ada juga kamera yang terintegrasi dengan senjata, toy camera, pin hole room, spy room, juga dark room yang biasa digunakan untuk cuci-cetak manual.

 



Kita naik ke atas melalui tangga yang ada di tengah, dan setelah berkeliling di atas dapat turun melalui tangga besi di bagian belakang. Bila mau, disediakan juga tour guide yang akan menjelaskan secara detil kamera-kamera dan fungsinya secara komplit kepada kita. Karena kunjungan pertama dulu saya dibantu tour guide jadi kunjungan kali ini cukup kita keliling sendiri saja. Dan jangan kuatir, semua area di museum ini bebas untuk kita foto atau dipakai berfoto. So, don't forget to visit, apakah kamu pecinta kamera atau bukan.
Baca selengkapnya

May 11, 2016

Menuju Puncak dengan si Ganteng All New Mazda2

It's long weekend baby! yess, tanggal merah di hari Kamis dan Jumat merupakan berkah tiada dua buat para pekerja kantoran yang haus libur kayak saya. Ini artinya kesempatan untuk santai atau liburan ke suatu tempat.

Dengan rencana yang sudah di buat sejak sebulanan lalu, dengan mengajak keluarga besar istri, kami patungan menyewa vila nan cantik di daerah Cipanas, Puncak. Lokasinya memang agak jauh mendekat ke Cianjur, tapi dari hasil survey ke beberapa lokasi lainnya, kondisi bangunan, suasana dan harganya cukup masuk akal untuk kami pilih.

Perjalanan di mulai dari Depok, dimana kami kumpul lebih dulu di rumah kakak ipar saya. Kami berangkat dengan 2 mobil saja. Pembagian posisi mobil sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya, dan kedua mertua serta seorang kakak ipar ikut di mobil All new Mazda2 hitam ganteng yang saya kendarai. Teknologinya udah SKYACTIV lho, teknologinya lebih tinggi dari generasi sebelumnya, dan konsumsi BBM juga lebih irit pastinya.



Meskipun kami memilih berangkat di hari Jumat, karena niatnya untuk menghindari macet di hari Kamis yang merupakan awal libur, ternyata arah Puncak tetap macet. Dari depok kami mengambil jalur lewat Jl Raya Kalimulya, Depok yang ujungnya tembus di ujung jalan Pemda Cibinong, lalu masuk Jl. Raya Bogor dan belok masuk arah Sentul untuk masuk tol. Kemacetan langsung terlihat saat antrian pintu keluar tol Ciawi. Kami harus menunggu sekitar satu jam untuk akses buka tutup jalan di Puncak.

Begitu jalur dibuka satu arah untuk naik ke atas, langsung saya tancap gas tapi sayangnya kami kembali terjebak macet di akses awal Ciawi sampe pertigaan Taman Safari.Untungnya mobil pake transmisi matic, jadi kaki kiri bisa santai ga perlu koplingan. Sejak macet di tol tadi, fitur yang namanya i-STOP berfungsi dengan baik, tiap kita injak rem dalam untuk berhenti karena macet, mesin otomatis mati dan otomatis kembali hidup secara cepat saat pedal gas di injak, walau mesin mati, tapi AC dan radio tetap hidup loh.



Lewat dari Cisarua, mulai masuk jalur berlika-liku meliuk-liuk melewati kebun teh. Nah, ini enaknya langsung aktifin fitur Sports Mode, tinggal klik tombolnya di dekat tuas transmisi, laju mobil menjadi lebih responsif dan enak untuk di bawa kencang. Perjalanan agak panjang menuju vila, dan saat radio mulai ga jelas muncul-hilang siarannya, saatnya mengkoneksikan iPod ke MZD Connect, dan memutar lagu-lagu favorit. 

MZD Connect ini adalah fitur unggulan hiburan dari Mazda yang didukung dengan layar sentuh berwarna ukuran 7 inci, yang bisa tersambung juga ke smartphone kita. Di sini kita bisa melihat beragam informasi soal mobil ini, mulai dari radio, DVD, fasilitas komunikasi settingan kendaraan maupun GPS (untuk tipe GT saja). Yang hebat lagi adalah, walaupun layar sentuh, kita tidak perlu menyentuh layar untuk mengganti saluran atau memilih menu. Semua bisa dilakukan dengan Commander Control, yang terdapat di floor console dekat arm rest atau di bawah tuas transmisi. Commander Control ini berfungsi untuk mengoperasikan berbagai fungsi di layar, tinggal putar dan pencet jog bulat yang besar, dan ada juga pengaturan tombol volume (selain di kemudi). Semuanya bertujuan supaya pengemudi bisa lebih fokus melihat jalan dan memudahkan pergerakan di dalam kokpit. Mantap.



Cuaca agak panas karena menuju tengah hari, untungnya lokasi vila yang agak menjauh melewati Cipanas ternyata membuat suasana sekitarnya lebih sejuk. Persis setelah melewati pom bensin kedua setelah Istana Cipanas, saya masuk ke jalan kecil di sebelah kanan, dan terus naik ke atas bukit, menembus kampung hingga akhirnya sampai di lokasi. Jalanan yang terlalu menanjak membuat saya kadang mengganti transmisi menjadi semi-manual agar lebih responsif saat jalan menanjak.





Jarak yang jauh terbayar dengan area vila yang tenang dan nyaman. Setelah mengeluarkan barang dan membagi-bagi kamar untuk masing-masing anggota keluarga, hal yang pertama dilakukan oleh anak-anak adalah berenang. Yes, they are excited to see the pool. Plus istri saya membawa 2 ban renang untuk digunakan.







Memang tidak salah juga banyak orang rela bermacet-macetan selama perjalanan menuju area Puncak-Cisarua-Cipanas, karena semua kelelahan akan terbayar di atas, dengan udara yang sejuk, pemandangan yang hijau indah menghampar, dan pastinya membuat pikiran tenang melupakan segala drama di kota hehehe....



Oh iya, kalau mau cek lebih jauh mobil yang saya bawa itu langsung cek aja di www.mazda.co.id, bisa lihat spesifikasinya lebih lengkap dan bisa coba test drive di dealer terdekat juga dong. Sok atuh!
Baca selengkapnya

May 02, 2016

GrabCar and day one in Bali [Bali 2016]

Perjalanan kami kali ini bisa dibilang mendadak, karena tau-tau Wulan kasih info ke saya bahwa dia dapat tiket murah tujuan Bali. Well, why not? dan waktunya pun pas dengan long weekend plus saya nambah cuti dari kantor.

Berangkat pagi buta dari rumah untuk ngejar pesawat pagi, penerbangan berjalan lancar, begitu keluar dari area dalam bandara Ngurah Rai Bali, kami menanyakan harga taksi untuk ke area Kuta, dan ternyata harganya cukup tinggi untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Sepertinya long weekend cukup berpengaruh karena wisatawan membludak mengunjungi Bali untuk liburan.

Lalu kami putuskan mencoba pesan GrabCar saja, karena berdasarkan browsing sana-sini banyak juga yang mencoba pesan di Bandara, walaupun katanya GrabCar di larang beroperasi di area bandara Bali.


Ada sedikit kejadian aneh saat saya pesan melalui aplikasi, 2 kali orderan saya di ambil tapi drivernya tidak bisa di hubungi, padahal kalau saya lihat di peta, lokasi mobilnya ada di area bandara. Untuk pemesanan kedua lebih aneh lagi, karena saat order di ambil, saya lihat di peta mobilnya bergerak, bukannya masuk ke area bandara, malah menjauh menuju ke arah kota.

Agak mulai curiga apakah ini taktik supaya orang tidak jadi pesan GrabCar dan akhirnya beralih ke angkutan lain. Tapi saya dan istri masih ngotot mencoba, sampai akhirnya berhasil mendapatkan seorang driver yang mengambil orderan dan bisa dihubungi.

Tanpa perlu lama, mobil yang ditunggu akhirnya datang. Bergegas kami naik dan langsung di antar ke area Kuta. Kira-kira setengah jam, mobil sampai di area Poppies Lane dekat pantai Kuta, tempat di mana kami menginap untuk hanya 1 hari, karena di sisa hari berikutnya kami akan menginap di daerah Ubud.

Kami menginap di The Kubu Hotel, sebuah hotel budget yang menurut saya cukup ok. Di lengkapi fasilitas kolam renang, breakfast sederhana, Wi-Fi dan pilihan kamar ber-AC atau kipas angin saja. Saran saya sih, karena lokasi dekat pantai, pastinya lumayan gerah jadi pilihlah kamar dengan AC.


Info dari situs memasukkan area hotel ini ke Jalan Popies 1, jadi saat baru datang, driver GrabCar mengajak kami masuk lewat depan Pantai Kuta, masuk ke Jl. Popies 1, padahal ternyata lokasinya lebih dekat masuk dari Jl. Popies 2 yang tembus langsung ke Jl. Legian.


Niat dari awal untuk menyewa motor selama di Bali langsung kami lakukan, dan kebetulan hotel juga menyediakan motor untuk disewa, 70 ribu selama sehari, motornya Vario lama yang banyak baret-baretnya haha, yang penting kuat jalan lahh....

Istirahat di kamar sebentar setelah check-in, langsung tancap gas motoran ke area Denpasar untuk mendatangi sebuah restoran bernama Kedai Ceret, yang menyajikan makanan ala-ala angkringan. Pilihan makanannya ya seperti nasi kucing, tahu/tempe bacem, goreng-gorengan, telur dan ada juga nasi ramesnya. Oiya, sambelnya enak. Kami ke sini hasil googling aja sih, nyari restoran makanan halal di Bali, dari sekian list hanya ini yang kami datangi hari itu dengan mengandalkan GPS dari handphone. 



Kedai ini punya desain interior yang unik dan menarik dengan seni instalasi ceret-ceret yang di gantung di langit-langit (pantesan namanya kedai Ceret) dan sepeda Ontel yang di jadikan pagar pembatas. Di seberangnya terdapat restoran Special Sambal yang pastinya halal juga. 
Baca selengkapnya