Siapkan dirimu untuk trip ke Jepang bersama Andra Ramadhan!

Udah pernah ke Jepang beluum? Kalau sudah, ini kesempatan untuk kembali berkunjung ke sana. Kalau belum, ya ini juga kesempatan untuk berkunjung pertama kalinya ke sana. Pasti seruuu!

Tumbuh besar mendengarkan lagu-lagu hits pada 90-an, saya sepertinya selalu stuck di situ. Banyak lagu-lagu baru bertebaran dan saya tetap saja suka mendengarkan lagu lama yang di putar berulang-ulang. 

Saat SMP dulu beberapa teman saya selalu menyempatkan bermain band di samping sekolah kami di daerah tebet, jadilah mereka punya skill masing-masing di gitar, bass maupun drum. Saya selalu jadi pendengar sejati haha.

Tapiii, buat kamu yang punya skill di area alat musik ini, ada kesempatan untuk menambah pengetahuan, kebisaan, teknik dan bertemu teman-teman seperjuangan dalam bermusik. Salah satu nama besar dari Jepang di industri alat musik dunia adalah Yamaha, yang di Indonesia berdiri dengan nama Yamaha Musik Indonesia Distributor mengadakan sebuah kompetisi dengan tajuk YAMAHA MAGNIFICENT 7 – GUITAR BASS DRUM COMPETITION.

Yamaha Musik Indonesia membagi proses audisi untuk para peserta menjadi dua, yaitu Online audition dan Live audition.

Online Audition
Berlaku di seluruh Indonesia, kamu di haruskan merekam sendiri kemampuan kamu saat bermain gitar/bass/drum, dengan video yang memperlihatkan secara jelas diri kamu, lalu memposting video rekaman tersebut ke Youtube kamu dengan template judul yang di tentukan oleh Yamaha musik. Periode upload video ini berlangsung selama 1 -31 Oktober 2017, tapi kamu bisa buat videonya dari sekarang doong.

Live Audition
Proses ini akan berlangsung di 9 kota di Indonesia, yaitu Medan, Palembang, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Makassar & Balikpapan. Di Live audition, tim Yamaha menyiapkan alat, tempat dan alat perekaman, jadi peserta tinggal datang ke lokasi yang di tentukan di 9 kota tersebut untuk menunjukkan skillnya memainkan gitar/bass/drum on the spot.

Sebaiknya kamu daftar dulu di form yang sudah disediakan lalu download lagu minus one di website Yamaha untuk dipelajari dan dipakai dalam proses perekaman itu.

Jadii, kamu yang punya keahlian di tiga alat musik itu, gitar bass dan drum, kamu punya peluang untuk menjadi salah satu dari 7 musisi terbaik yang akan di undang ke Jakarta. Berdasarkan masing-masing kategori total ada 21 orang yang akan bertarung di Jakarta.

Peringkat tiga besar masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah produk-produk unggulan dari Yamaha musik. Daaan, untuk kamu yang menjadi juara satu tiap kategori akan di ajak kolaborasi single bersama Andra Ramadhan serta trip ke Jepang pastinyaa…

Langsung aja cek cara ikutan, pendaftaran dan info lengkapnya di http://bit.ly/YamahaMagnificent7




Tembok Cina di Mutianyu Section [Travel ke Cina #2]


Dulu, waktu belum tahu lebih detil tentang tembok besar Cina alias Great Wall of China, atau di Indonesia biasa di sebut Tembok Cina aja, dipikiran saya adalah lokasinya ya cuma di situ-situ aja. Ternyata ada beberapa area tembok cina yang bisa kita pilih untuk datangi. Dari beberapa section, ada tiga yang menjadi tujuan utama para pelancong di Beijing.


Badaling
Ini adalah section yang paling banyak dikunjungi wisatawan karena akses kendaraan umumnya yang cukup mudah. Kalau kamu pernah nonton filmnya yayang Revalina S Temat yang judulnya Assalamualaikum Beijing, nah salah satu lokasi syutingnya adalah tembok Cina di Badaling ini.

Mutianyu
Saya dan istri memilih section Mutianyu, karena berdasarkan informasi yang kami baca, lokasi ini lebih sedikit turis di banding Badaling yang selalu penuh.

Juyongguan
Selain tembok cina, disini terdapat juga bangunan dan kuil kuno.

Selain area-area tersebut sebenarnya masih ada section tembok Cina lainnya yang tersebar seantero Beijing, seperti Simatai, Jinshanling, Jiankou dll. Namun yang sudah cukup tourist friendly memang tiga itu, lainnya masih liar dan lebih makan effort menjelajahinya, walaupun tetap ada aja yang datang, biasanya mereka travel photography hunter atau orang-orang yang senang hiking. Coba cek link ini supaya lebih jelas.

Mutianyu section. Selain karena lebih sedikit turis yang datang, saya sangat ingin mencoba Toboggan, yaitu kereta luncur single  untuk turun dari atas tembok cina sampai ke gerbang awal masuk. Seru banget!

Keluar hotel di area distrik Dongsi pagi hari melawan suhu minus derajat, kami bergegas menuju stasiun subway untuk mengejar bis 916 tujuan Huairou dari terminal Dhongzimen, lalu dari Hairou kami harus naik taksi atau minibus untuk ke Mutianyu. Stasiun subway Beijing sangat dapat diandalkan sebagai transportasi umum, mudah murah efisien seperti halnya di Singapura, Malaysia, maupun Hong Kong.

Di terminal Dhongzimen, kami sudah positif mengantri untuk naik bus 916 menuju Hairou, saat menunggu tiba-tiba seorang petugas terminal yang tahu kami akan menuju Mutianyu menyuruh kami menaiki bus dengan nomor yang berbeda, bukan 916. Saya sampai bertanya berkali-kali betul bus nomor itu yang harus kami naiki, dan dia mengiyakan dengan yakin.



Jadilah saya dan istri naik bus tersebut, antara yakin dan belum yakin sebenarnya hahaha. Setelah perjalanan sekitar satu jam, saya mendadak agak was-was, apakah betul ini bus yang benar. Ditambah lagi setelah bertanya pada orang lokal di sebelah kursi saya, dia bilang bahwa bus ke Mutianyu harusnya nomor 916. Alamak, alamat nyasar nih!

Saat saya tanya ke supir bus, dia santai saja cuma ngangguk-ngangguk, ga ngerti kali saya ngomong apa. Tapi beberapa lama kemudian bus berhenti di sebuah halte, dan beberapa orang masuk ke bus sambil berkata "Mutianyu, Mutianyu?"

"Heh, langsung nyambung di sini nih?" pikir saya. Bergegaslah kami turun bus.

Ternyata di halte ini telah standby orang-orang lokal yang menawarkan jasa pribadi dengan mobil mereka untuk mengantarkan para turis ke Mutianyu. Awalnya salah seorang menawarkan dengan harga 50RMB untuk satu orang sekali jalan, tapi saya tawar untuk dua orang dan akhirnya sekalian juga untuk bolak-balik, daripada nanti susah angkutan lagi. Deal.

Perjalanan dari halte itu ke Mutianyu pun dimulai, dan memang lumayan jauh juga sebenernya. Suasana beijing saat musim dingin ini sangat keren, ga bosan-bosan kami lihat keluar jendela mobil. Sang supir sangat ramah dan selalu menunjukkan lokasi-lokasi bagus yang kita lewati. Walaupun menggunakan bahasa tarzan, karena dia ga bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.



Sampai di Mutianyu, sang supir mengantar kami sampai loket pembelian tiket, dan menginfokan kalau dia akan menunggu kami di depan pintu masuk. Dari pintu masuk ini, kami masih harus naik shuttle bus selama beberapa menit untuk ke lokasi kereta gantung atau cable way menuju puncak Tembok Cina.

Dari gerbang besar Mutianyu menuju tempat shuttle bus berada, kita akan melewati jejeran restoran yang bervariasi mulai dari Burger King sampai makanan tradisional Cina, serta toko-toko kecil yang menjajakan minuman dan pastinya ada juga toko cinderamata khas Beijing atau Mutianyu, dan pemilik kedai akan merayu pengunjung yang lewat untuk sekedar mampir di toko mereka untuk melihat-lihat.







Yang membuat saya sangat kagum adalah suasana Mutianyu yang tenang, indah dan sangat bersih, toiletnya pun bersih dan wangi (Mengingat banyak orang komplain toilet umum di Cina lumayan jorok). Saya membeli tiket cable way untuk naik dan tiket sliding car toboggan untuk turunnya nanti. Bisa mencoba Toboggan merupakan salah satu alasan saya untuk datang ke Mutianyu, karena penasaran setyelah melihat video orang-orang yang mencobanya di YouTube.Cihuyy.

Cable way ini sama seperti skyludge yang ada di Sentosa Island Singapura, bentuknya seperti kursi gantung untuk ski, open air gitu. Dari cable way yang berjalan ini terlihat jalur toboggan yang meliuk-liuk di bawah, dengan beberapa orang yang sedang meluncur turun dengan asiknya.



Begitu turun dari cable way, ada dua jalur yang bisa di eksplor, yang kanan adalah Zhengguan pass dengan kontur langsung menurun dan jalur kiri yang menuju outer branch wall dan lebih jauh dikit ke North Arch Gate. Nah di dekat area ini ada perhentian cable car juga, jadi selain pilihan cable way dan toboggan tadi, kamu juga bisa pilih untuk naik cable car yang tertutup, sama seperti kereta gantung pada umumnya di Taman Mini, Ancol ataupun Genting Highland.







Kontur tembok cina yang naik turun mengikuti bentuk bukit sungguh menantang untuk di jelajahi, jadi siap-siap capek yah. Saran saya pakai sepatu yang fleksibel dan enak di pakai, jangan pakai sepatu yang sol tinggi, atau hak tinggi. Apalagi kalau kamu cowok :D.

Melihat tembok cina secara langsung benar-benar mimpi yang jadi kenyataan buat saya, karena selama ini hanya tahu tentang ceritanya, foto dari buku pelajaran dan komik-komik yang selalu saya baca dari kecil. Saya dan istri memutuskan mengambil jalur kiri terlebih dulu dan mulai berjalan mengikuti alur tangga sampai menuju outer branch wall. Oh iya, di atas juga ada sedikit toko souvenir dan kafe untuk ngopi-ngopi sambil menikmati indahnya suasana, enak juga apalagi pas musim dingin.





Tadinya saya berharap bisa mendapatkan tembok Cina yang berselimut salju, karena pasti keren banget. Sayangnya salju sedang malas turun di Beijing dan sekitarnya, jadi cuma dapat sisa-sisa es di pojokan saja. Menyusuri lokasi ini cukup menguras tenaga, untungnya kami bawa bekal air dan coklat untuk mengisi perut.

Keseluruhan tembok Cina di bangun selama kurang lebih 2.000 tahun selama beberapa dinasti Cina, bayangkan berapa banyak orang yang berkontribusi membangunnya. Menurut yang saya baca ada sekitar 800.000 orang yang terlibat. Dan sampai saat ini setelah melihat secara langsung bentuknya, saya masih merasa takjub dengan betapa hebatnya orang-orang yang membangun Tembok Cina ini, mengikuti kontur bukit yang naik turun.





Setelah beberapa jam naik, turun, istirahat, foto-foto, ngobrol dengan sepasang suami istri dari Florida yang selalu membawa boneka babi kecil dan baru saja liburan ke Indonesia, kami bergegas kembali ke titik awal dan turun dengan Toboggan, yaiyy.



Sliding dengan toboggan ini sangat mudah, cuma perlu menarik tuas untuk rem dan mendorong ke depan untuk lepas rem, dia akan meluncur deras mengikuti jalur yang turun. Saya mempersilakan istri saya meluncur duluan di depan saya, tapi ternyata dia berjalan agak pelan karena takut-takut jadilah saya ga bisa terlalu kencang, padahal liat di video seru banget kalo speednya lebih laju sedikit hahaha.



Kami juga mampir sebentar di sebuah kedai kecil untuk membeli pancake pisang yang harganya bisa di tawar, di bungkus dan di makan sambil jalan. Di gerbang depan pak supir sudah menunggu dengan senyum lebar sambil memberi isyarat jempol seakan bertanya, udah puas coy?





Kami lalu diturunkan di sebuah halte dan menyambung bus 916 menuju terminal Dhongzimen. Keramahan pak supir masih membekas buat kami, walaupun bahasa isyarat selalu digunakan bukan halangan untuk selalu ramah terhadap orang lain.





Beijing I Like You in Winter! [Travel ke Cina #1]


Beijing. Kota ini sungguh membuat saya jatuh cinta dengan suasananya, bentuk bangunannya banyak yang bervariasi gabungan klasik dan modern, serta transportasi umumnya yang sangat oke punya. Saya menghabiskan sekitar 5 hari di Beijing awal Januari saat musim dingin masih berlangsung dengan dinginnya (Ya iyalahh).


Semua berawal dari friendly ticket Air Asia alias promo kursi, gagal mendapatkan best price untuk tujuan Jepang saya dan istri beralih ke Beijing, yang ternyata tidak kami sesali sama sekali, banyak tujuan dan kegiatan yang bisa di lakukan di sana, sebagai salah satu kota tua di dunia, Beijing is truly amazing!


Saya sengaja pilih waktu transit di Kuala Lumpur sekitar 7 jam, agar menyempatkan pergi ke Cyberjaya, Selangor, ceritanya mau kasih lihat istri daerah tempat saya bekerja dan tinggal dulu, blast from the past gitu dan juga mampir sekalian makan siang di restoran vegetarian India langganan saya (tapi gagal karena lokasinya pindah agak jauh haha).





Setelah 7 tahun akhirnya saya kembali juga ke Cyberjaya, Mal yang dulu masih under construction kini berdiri kokoh meskipun suasana sekitarnya tetap seperti dulu, sepiii. Buat yang belum tahu, Cyberjaya adalah kota kecil yang berjarak sekitar 35 menit dari pusat kota KL, di mana banyak perusahaan bidang teknologi membuka kantor di kota ini, dan merupakan lokasi dua universitas ternama yaitu Lim Kok Wing dan Multimedia University.

Anyway, perjalanan dari KL ke Beijing memakan waktu sekitar 5 jam, yang kebanyakan kami habiskan dengan tidur selama di pesawat. Karena landingnya tengah malam dini hari, jadi kami tidak langsung ke hotel, tapi menunggu pagi di area bandara saja, tidur-tiduran di kursi sambil melihat orang-orang yang lalu lalang. Banyak juga yang sengaja menunggu pagi di area ruang tunggu setelah lepas dari konter imigrasi.


Hal pertama yang membuat saya kaget adalah saat menuju lokasi kereta Airport express yang melewati satu lorong menuju loket tiket di bawah, angin musim dingin berhembus kencang dan membuat saya agak kaget karena dinginnya minta ampun, maklum baru pertama kali ngalamin suhu di bawah minus nol derajat. Dari yang tadinya cuma jaketan dobel, langsung saya pasang kupluk sampai nutup telinga, sarung tangan dan scarf pun saya lilit sampai menutup hidung. Dingin bener eyy.

Kami menggunakan kereta supaya lebih cepat sampai di pusat kota. Airport express ini berhenti di stasiun Dhongzimen dengan harga 25 RMB, dan dari situ kami menyambung subway line 2, lalu pindah ke line 6 arah ke stasiun Dongsi yang merupakan daerah tempat hotel kami berada. Untuk membuat perjalan kamu lebih efektif, disarankan beli Yikatong card atau smart card yang bisa digunakan untuk naik subway, naik bus ataupun beli-beli di minimarket, harganya 50 RMB dengan isi 30 RMB dan deposit 20 RMB. Deposit ini bisa dikembalikan bila nanti kita ga mau pakai Yikatong card lagi di tukar di loket subway.


Sistem kereta api bawah tanah di Beijing cukup mudah di pahami dan sangat lebih membantu jika kita download aplikasinya, jadi ga perlu buka-buka lembaran peta, modalnya ya banyak jalan kaki hehe.Totalnya sudah ada 18 Line yang beroperasi, bandingkan dengan Jakarta yang saat ini baru sedang dibangun line pertama untuk MRT.



Keluar stasiun Dongsi, pastinya hawa dingin langsung menampar kulit wajah, dan jari tangan langsung cepat kaku karena sangat dingin, lebih baik masukkan ke kantong jaket kalau ga pake sarung tangan. Banyak sepeda berseliweran di jalanan, tidak heran karena Beijing adalah salah satu kota di dunia yang ramah dengan pengendara sepeda, ada jalur khusus dan parkiran khusus juga yang disediakan.





First thing first. Enjoy the scenery in town and selfie plus wefie sambil berjalan menuju hotel tempat kami menginap selama beberapa hari ke depan. Oh ya, karena kebijakan pemerintah sana yang memblok akses beberapa media sosial andalan yang biasa kita pakai, jadi sebelum berangkat download aplikasi seperti VPN master, VPN Proxy Master, Better net dll, supaya bisa buka-buka dan post di FB, Twitter, IG pastinya.





Garut Road Trip

Sejujurnya, saya belum pernah ke kota Garut. Dan kebetulan minggu lalu saya dan istri berkesempatan berkunjung ke sana, walaupun cuma sehari semalam.

Awalnya ide ini tercetus begitu saja, memikirkan ke mana kami akan menuju disaat libur panjang, road trip kecil dengan mobil kesayangan, selain ke Bandung. At the end, Kami berangkat ke Bandung terlebih dulu, dan keesokan harinya baru berangkat ke Garut.

Sebelum berangkat, saya dan istri browsing sana-sini mencari referensi tempat yang akan dikunjungi dan di mana akan menginap, sampai kemudian saya booking hotel Regata di Bandung dan Mulih K' Desa di Garut. kedua hotel ini saya book dengan Traveloka yang kebetulan ada promo bila booking hotel menggunakan apps nya. Rajin-rajin aja cek melalui apps ya.


Hotel Regata lokasinya cukup ok, persis di sebelah FO ngetop Rumah Mode di Jalan Setiabudi, jadi anda tinggal koprol sekali aja dari hotel. Awas boncos ya, karena kebanyakan belanja dan makan di sini haha.

Nah, yang cukup menarik adalah saat kami ke Garut, menginap di Mulih Ka Desa. Sebuah tempat yang menawarkan nuansa pedesaan, makan dan menginap di tengah sawah. Lokasinya dekat dengan Kampung Sampireun yang terkenal itu.



Nuansanya benar-benar seperti di perkampungan dengan area sawah dan pancuran air dari bambu yang mengalir dan mengeluarkan suara khas. Untuk yang membawa anak-anak, ada area mainan anak seperti ayunan, seluncuran dan jungkat-jungkit, juga bisa belajar membajak sawah dengan Kerbau yang ada di sana.

Areanya terdiri dari rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu, dan kita menginap di salah satu rumah tersebut, tergantung tipe apa yang kita booking. Buka pintu samping untuk ke teras dan pemandangan hijau sawah langsung terlihat. Saat pagi hari, sarapan di antarkan ke penginapan langsung, dan kita bisa makan di teras sambil menikmati udara pagi.





Pintu masuk Mulih Ka Desa cukup unik, berbentuk gerbang bambu yang disusun menjadi atap, serta kursi-kursi yang terbuat dari bambu juga. Di area depan terdapat banyak pondokan atau gazebo untuk orang-orang yang datang cuma hendak makan atau memesan makanan di restoran Mulih Ka Desa, harganya pun sangat rasional menurut saya.



Kami tentunya tidak cuma diam di penginapan, tapi juga sedikit mengeksplor Garut. Saat malam adalah waktu yang pas mencari pemandian air hangat yang sepertinya menjadi atraksi utama saat ke Garut. Nah, bila menginap di Mulih Ka Desa, kita akan dapat voucher untuk pemandian di hotel Titagangga yang terletak di area Cipanas. Di area ini pula terdapat pemandian Sabda Alam, Sumber Alam ataupun pemandian lainnya yang rata-rata juga memiliki tempat menginap.



Setelahnya, kami mencari info di mana tempat banyak makanan atau hangout di garut Kota. Akhirnya kami sampai di Pasar Ceplak, yang saat malam tiba dipenuhi pedagang-pedangan makanan (walau kebanyakan serupa makanannya hehe). Sempat melewati Alun-alun kota Garut, kami menanyakan seorang anak muda, apakah tempat itu ramai kalau malam hari, eh dia bilang nggak juga, jadi ya kami ga lanjut ke situ.

FYI, di atas jam 9 kota Garut sudah sepi loh, banyak warung-warung sudah tutup dan jalanan juga ga ramai. So, sebaiknya cari makan malam di bawah jam segitu aja. Kami nyasar beberapa kali saat hendak balik ke penginapan, walau pakai GPS karena beberapa belokan yang disarankan GPS tidak terlihat karena gelap hahaha.

Siang hari setelah check-out, kami naik ke Darajat Pass, yang lokasinya lebih ke atas dari Mulih ka Desa. Tempat ini merupakan sebuah area perbukitan yang disulap menjadi waterboom, pemandian air panas dan outbound area untuk rekreasi keluarga. Sebenarnya ada beberapa lokasi menarik lain disekitarnya, seperti Kawah darajat misalnya. Tapi kami mesti segera kembali ke Bandung, untuk kemudian balik ke Jakarta dari sana. So far it's a fun road trip for me and wife :)



Berburu Pakaian Musim Dingin (Winter Clothes)

Memasuki bulan Nov-Dec-Jan-Feb di banyak negara 4 musim identik dengan musim dingin, angin kencang yang membuat menggigil, suhu udara yang bisa mencapai minus derajat plus salju yang turun di beberapa tempat tertentu.

Bila hendak bepergian ke negara 4 musim, memasuki musim dingin alias winter tentunya memerlukan pakaian yang proper,  bukan sekedar jaket atau sweater biasa, serta pelapis bagian dalam atau penutup bagian-bagian lainnya. Hal ini perlu supaya tubuh kita sebagai warga tropis, tidak kaget saat mengahadapi perbedaan suhu yang drastis.

Dalam persiapan travel ke Cina, Saya dan istri mendatangi beberapa tempat untuk sekedar melihat-lihat, membandingkan dan akhirnya membeli perlengkapan musim dingin. Menurut kabar musim dingin di cina (Beijing) lebih terasa dingin dibanding negara lainnya. Saat saya datang sih suhu mencapai -5 0C, langsung saya kedinginan.

Anyway, beberapa tempat/toko yang kami datangi adalah sbb:

UNIQLO dan H&M
Terletak di mal-mal besar Jakarta, silakan kunjungi dua tempat ini untuk melihat koleksi jaket winter, syal maupun sepatu. Uniqlo punya Heattech yang berfungsi sebagai kaos dalam seperti longjohn untuk menjaga tubuh tetap hangat. Heattech ini juga punya levelan untuk berbagai kondisi dingin. Koleksi Jaket Uniqlo modelnya biasa saja menurut saya, tapi secara fungsi mungkin cukup oke menahan dingin.

Saya dan istri sempat naksir juga dengan jaket di H & M, harganya sekitar 600 rb dan modelnya cukup ok, tapi kami putuskan melihat-lihat tempat lain dulu. Istri saya membeli boots casual berlapis bulu angsa di dalamnya yang kebetulan sedang diskon di sini. Soal harga jaket, di kedua tempat ini ya pastinya agak tinggi dengan range sekitar 600  – sejuta lebih.

Pasar Pagi Mangga Dua

Toko Djohan
Toko ini ada di urutan pertama mesin pencari google kalau keyword kita soal perlengkapan musim dingin di Jakarta. Cukup banyak juga yang merekomendasikannya. Toko ini terletak di lantai 2 pasar pagi mangga dua. Saya ke manga dua naik kereta Commuter Line dari pasar minggu, turun di stasiun kota dan nyambung mikrolet sekitar 10 menit. Lebih hemat, efisien dan ga capek.
Jaket winter di toko ini lumayan banyak pilihan dan modelnya banyak yang ok, ada beberapa yang bermerk sepert Zara dll, ga tau sih asli apa palsu. Bajunya sudah pasti baru disini, kisaran harganya antara 600 – sejutaan lebih. Kami beli sarung tangan dan longjohn di sini. O iya, buat yang belum tau, longjohn itu sepaket ya, isinya baju kaos panjang dan celananya.




Toko Farina
Denger-denger ini adalah sister shopnya Johan, letaknya di lantai yang sama. Pilihannya juga beragam, tapi beberapa model jaket berbeda dengan toko Johan, saya sempat naksir juga satu jaket model army look, tapi sayangnya ga ada ukuran buat saya :D.
Kisaran harganyan sama sepert toko Johan 700 – sejutaan.

Toko Monica Jaya
Letaknya ga jauh dari toko Farina, istri saya beli thermal legging lapis kulit onta (bener gat uh) seharga 150 ribu setelah ditawar, dan selama di pakai di suhu -5 0C istri saya ok aja tuh. Dan saya beli sarung tangan kulit 120 rb. Di sini juga jual perlengkapan lainnya seperti topi rusia, glove, longjohn, model jaketnya juga variatif.

Rumah Mode Bandung
Saat kebetulan ke Bandung, kami mampir di sini, ternyata cukup banyak jaket musim dingin yang bisa dilihat dengan kisaran harga 500 – sejutaan, karena ini factory outlet, pastikan memilih barangnya teliti ya apakah ada sobek, bercak dll, dan banyak juga yang branded. Kalau kebetulan di Bandung, cek aja siapa tau cocok.

Mal Ambassador
Ada satu toko di lantai bawah, dekat pintu masuk utama mal, tapi model-modelnya kurang cihuy menurut saya, dan harganya sekitar 900-sejutaan.

Metro Building – Pasar Baru
Saya tau tempat ini dari istri yang dapat infonya juga hasil searching blog orang. Kalau kamu masuk dari pintu depan, yang dari arah gambir, gedung Metro ini terletak di area ujung lorong pasar baru sebelah kanan, lantai 2. Banyak toko-toko kamera juga di sini.

Ada beberapa toko yang menjual banyak macam jaket musim dingin. Barang yang dijual di sini adalah sisa export, bekas, tapi banyak sekali yang kondisinya sangat ok. Yang di jual pun beragam, dari Jas, tuxedo, jaket motor, sweater, celana dan pastinya jaket winter.

Saya dan istri akhirnya membeli jaket di sini. Istri saya dapat jaket yang cukup ok berlapis bulu angsa dengan harga 200rb. Sama dengan saya, jaket Airwalk yang cukup ok dengan harga 200rb juga. Sangat menghemat budget kan, apalagi ga sebulan sekali juga itu jaket tebel kita pakai. Buat yang budgetnya terbatas, saya sarankan coba cek tempat ini saja, memilih jaket winternya mesti pelan-pelan dan sabar ya sampai nemu yang model ok, warna ok dan harga ok J

Saran dari saya, benar-benar memilih jaket winter yang memang sangat ok menahan dingin, karena dingin di sana memang benar-benar dingin, ga kayak di puncak yaa. kalau ga yakin jangan di beli, tanya penjaga tokonya bila perlu. Siapkan earmuff untuk menjaga telinga ga kedinginan, kalau saya cukup pakai kupluk yang ditarik sampai telinga.

Sarung tangan mungkin kedengarannya ga terlalu perlu, tapi percaya deh, kalo ga biasa dengan dinginnya cuaca, tangan kita akan terasa kaku dan ujung-ujungnya masukin ke kantong terus, standby aja. Scarf atau syal juga jangan lupa, lebih bagus yang bahan wol kayaknya, nahan dingin dengan sangat cukup dan bisa nutupin sampai hidung (hidung saya kaku terus saat kena dingin di Beijing).

Oke selamat berburu pakaian musim dingin, and enjoy your winter holiday!

Ketika di Yogyakarta (Plus Travel Video)

Yogyakarta a.k.a Jogja. Begitu tenang dan segalanya terasa berjalan perlahan dan tidak terbebani. Itu yang saya rasakan saat berkunjung ke Yogyakarta beberapa tahun silam. Lalu saya berkesempatan datang lagi dua bulan lalu, dan rasa itu masih sama, I'm in love again with Jogja. 


Well, kecuali satu hal, sekarang kok banyak banget motor yang ngebut sabet kiri kanan dan suka asal ambil jalur orang, kayak di Jakarta yaaa. Kalau kata supir Grabcar yang saya naiki, kebanyakan adalah pendatang yang naik motornya seperti itu, warga Jogja lebih kalem saat dijalanan.

Dengan menggunakan kereta Senja Utama malam, saya berangkat dari stasiun Pasar Senen Jakarta pk. 19.00. Tiket yang saya booking online, terlebih dulu harus daftar check in otomatis di deretan mesin yang berjejer rapi dekat minimarket stasiun. It's easy and fast, plus selalu ada staff yang membantu bila kita bingung mengoperasikan mesin tersebut.


Saya memutuskan tidur sepanjang perjalanan, karena ga bisa lihat pemandangan juga di malam hari. Terbangun beberapa kali termasuk saat penumpang yang duduk sebelah saya sedang memesan makanan dari gerbong sebelah, wanginya nyam-nyam, dan antrinya juga nyam-nyam.

Tiba di Jogja sekitar pk. 03.00 dinihari, saya berjalan keluar stasiun dan langsung di hadang tawaran abang-abang becak, ojek dan taksi. Tapi saya memutuskan mencoba Gojek saja dari luar area stasiun untuk di antar ke hotel di area Ngadinegaran, dekat dengan alun-alun. Dan ya, jam segitu ternyata masih ada yang standby.

Tujuan saya ke Jogja sebenarnya menyusul istri saya yang sedang ada kerjaan di sana, dan kami punya waktu bebas 2 hari untuk sekedar kelilingan di pusat kota. Dengan waktu yang sempit kami tidak sempat mampir ke candi-candi maupun Merapi, jadi benar-benar hanya di sekitaran pusat kota.


Untuk mempermudah pergerakan berkeliling, saya memutuskan menyewa motor lewat hotel kami menginap. Harga standar 60 ribu untuk sehari penuh. Kebetulan hotel yang kami tempati dekat dengan area Prawirotaman, yang terkenal sebagai markasnya hotel-hotel budget terjangkau selain di Sosrowijayan yang dekat Malioboro. Tapi bukan berarti semuanya hotel budget, banyak juga hotel yang kelasnya di atas itu lho. Beberapa kali kami mampir ke area Prawirotaman sekedar duduk-duduk ngopi di salah satu kafe dan keluar masuk toko pernak-pernik handycraft yang banyak tersebar di area tersebut.





Oh ya, saat makan malam di Rumah Makan Chinese Lezat Medan di Jl Suryatmajan (bisa masuk dari Jl Malioboro), saya menemukan toko penjual pernak-pernik yang menjual beragam kerajinan tangan dengan harga lebih murah di banding toko-toko lainnya.


Terakhir, Check my Travel Video when in Yogyakarta. Silakan atuh di play videonya :)



The Camera Museum - Georgetown Penang

Bila berkunjung ke Penang, jangan lupa mampir ke The camera Museum, George Town yang di sebut sebagai Camera Museum pertama di Asia Tenggara. Lokasinya mudah di capai karena terletak di sekitaran area heritage turistik George Town, Tepatnya di 49, Lebuh Muntri.

Untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan bus nomor 204 dari Komtar terminal yang melewati lebuh Chulia (Chulia Street). Turun di halte Love Lane. Lalu jalan kaki telusuri Love Lane, sekitar 100 M ketemu jalan Lebuh Muntri di sebelah kiri, belok susuri jalannya dan ga jauh setelah belok itu bangunan museumnya ada di sebelah kiri.




Seperti banyak Artshop maupun kafe di sekitaran Penang, museum ini berada di bangunan-bangunan klasik arsitektur khas Cina yang masih di jaga kelestariannya. The Camera Museum akan membawa kita menjelajah waktu menelusuri bentuk-bentuk kamera foto sejak produksinya yang paling awal. Masuk dari pintu depan, kita di sambut dengan replika kamera klasik berukuran besar dengan nama The camera Museum Georgetown di atasnya, and yes kita boleh berfoto di situ. Di dinding kiri kanan terpajang beragam foto dan poster klasik, termasuk liputan tentang The Camera Museum di berbagai media cetak yang di bingkai. Disediakan juga jasa fotografer bila kita ingin di foto secara profesional di salah satu sudut museum.



The Camera Museum terdiri dari dua lantai, di mana lantai bawah terdapat kafe untuk ngopi-ngopi cantik, serta SnapShop, toko yang menjual beragam pernak-pernik tentang Camera Museum dan Penang. Meskipun tempatnya tidak besar, tapi ada beberapa spot-spot menarik untuk berfoto dengan latar mural atau beberapa props yang disediakan.



Lantai dua adalah tempat di mana semua kamera dipajang atau didisplay. Untuk diijinkan naik ke atas, kita mesti membayar admission fee sebesar 20 Ringgit untuk umum, sedangkan pelajar dan warga senior alias udah berumur cukup dengan 10 Ringgit. Kita akan mendapat souvenir gantungan kecil khas museum ini. Saya sudah dua kali berkunjung ke museum ini. Pertama kali sendirian, dan yang kedua kali bersama istri saya yang juga pertamakali menginjakkan kaki di Penang. Ada sedikit perubahan layout museum di banding terakhir saya kemari, tidak banyak tapi saya masih cukup ingat layout sebelumnya.



Di lantai dua inilah kita dapat melihat perkembangan kamera dari tahun ke tahun dari berbagai merk, juga melihat History of Camera melalui wall of fame yang tertempel di dinding. Lantai dua ini dibagi-bagi menjadi beberapa sekat ruangan, di mana tiap ruangan memiliki tema display kamera yang berbeda. Kita bisa lihat ruang kamera Obscura yang merupakan cikal bakal kamera modern. Bentuknya sangat unik dengan kotak kayu yang terpasang cermin untuk melihat refleksi objek di depannya. Ada juga kamera yang terintegrasi dengan senjata, toy camera, pin hole room, spy room, juga dark room yang biasa digunakan untuk cuci-cetak manual.

 



Kita naik ke atas melalui tangga yang ada di tengah, dan setelah berkeliling di atas dapat turun melalui tangga besi di bagian belakang. Bila mau, disediakan juga tour guide yang akan menjelaskan secara detil kamera-kamera dan fungsinya secara komplit kepada kita. Karena kunjungan pertama dulu saya dibantu tour guide jadi kunjungan kali ini cukup kita keliling sendiri saja. Dan jangan kuatir, semua area di museum ini bebas untuk kita foto atau dipakai berfoto. So, don't forget to visit, apakah kamu pecinta kamera atau bukan.