Saigon - Ho Chi Minh

Minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi Ho Chi Minh City, Vietnam dalam rangka urusan kerjaan. Sayangnya dengan waktu yang terbatas karena urusan kerjaan didahulukan, saya tidak sempat berkunjung ke area-area wisata utamanya.

Kota yang dulunya bernama Saigon ini sangat menyenangkan untuk dikunjungi, saat saya berada di sana cuaca cukup bersahabat, tidak terlalu panas dan enak dibawa jalan, meskipun saya keluar hanya sekitar 1-2 jam untuk makan siang dan berangkat ke kantor sana dari hotel yang berjarak hanya sekitar 200 meter.


Saya cuma punya kesempatan untuk berkeliling sekitar kota diatas jam 6 sore sepulang meeting. Novotel Saigon yang jadi tempat tinggal saya berada di Distrik 3, Hai Ba Trung Street. Keadaan kota mirip dengan kota-kota di Indonesia, banyak pedagang pinggir jalan yang menjual minuman botolan, pedagang pakaian, keramik serta tambal ban dan ojek mangkal, lalu saat malam tiba, trotoar berubah menjadi lapak gerobak pedagang street food, terutama Pho Mie yang sepertinya jadi makanan wajib di sana. Untuk yang muslim harap berhati-hati karena biasanya makanan tersebut non-halal.

Pemandangan khas dari kedai gerobak ini adalah meja dan kursi mereka yang sangat pendek dan kecil, seperti meja dan kursi anak TK. Menurut saya sih, orang vietnam itu mirip kayak orang Indonesia, sukanya nongkrong dan sama-sama ekstrem. Setiap saya jalan berkeliling, pasti selalu ada segerombol orang yang nongkrong di pinggir jalan. So far mereka tidak ganggu saat saya lewat. Ekstremnya adalah soal pengendara motor yang sangat banyak di sana. Kalo di Indonesia, waktu kita lihat seorang pengendara naik motor sambil buka handphone/baca sms kita bilang Indonesia banget, maka di sana jadinya Vietnam banget!


Tukang parkir juga ada di tiap toko pinggir jalan, tapi mereka memakai seragam yang sama di setiap tempat, jadi saya ga tau apakah sifatnya resmi atau nggak. Trotoar di Ho Chi Minh sangat lebar-lebar sehingga tidak menyusahkan pejalan kaki untuk berebut jalan dengan kendaraan bermotor. Saya sering dengar pengendara motor di Vietnam sangat liar, tapi dari pengalaman saya beberapa minggu lalu, sepertinya pengendara motor di Jakarta yang paling chaos.

Jalur kendaraan di Vietnam ada di sebelah kanan, kebalikan dengan Indonesia. Makanya mobil di sana ber-stir kiri. Saat mencapai lampu merah, mobil biasanya berhenti agak ke kiri, dan motor akan berhenti di jalur sebelah kanannya. Kendaraan umum di Vietnam selain taksi, adalah bus dan ojek motor. Saya beberapa kali disapa oleh pak ojek dengan bahasa lokal, yang saya jawab dengan gelengan senyum dan angkat tangan sebagai tanda "No, thank you...".


Concierge hotel berbaik hati menunjukkan saya peta tempat-tempat wisata di sekitar kota dan menawarkan memakai taksi, tapi saya ga berminat neksi, dan karena saya malas naik bus dan ojek, jadilah saya berjalan kaki di malam hari mengeksplorasi tempat-tempat di sekitar hotel. Ternyata cukup banyak taman kota tersebar di beberapa lokasi, dari yang taman kecil sampai taman besar, dan rata-rata sangat rapi dan banyak bangku taman, jadi lumayan kalau siang bisa buat ngadem.

Saya sempat melewati Reunification Palace alias Independence Palace, dan melewati Notre Dame Cathedral yang cukup terkenal itu, sayangnya saat lewat sana kondisinya gelap, bangunannya sedikit sekali menggunakan lampu, entah cuma saat itu atau biasanya memang begitu.


Setelah berjalan terus dan bertanya sana-sini selama beberapa kali, saya tiba di Ben Than Night Market, tempat menjual beragam pernak-pernik, souvenir khas vietnam, pakaian maupun makanan. Kalau siang, gedung Ben Than Market yang buka, banyak penjual di dalam, tapi saat malam penjualnya di luar, di Night Market.  Tujuan utama saya saat itu adalah mencari restoran halal di sekitar situ. Tidak tanggung-tanggung, ada beberapa restoran muslim yang kebanyakan adalah milik orang Malaysia. Harga sepertinya lebih mahal, mungkin karena cukup sulit menemukan makanan halal di Vietnam.



Selesai makan, saatnya beli beberapa souvenir dan cemilan sebagai oleh-oleh. Saat saya menanyakan arah balik ke lokasi hotel, sang pedagang kaget karena mengetahui saya berjalan kaki ke Ben Than Market dari sana, karena menurut mereka itu sangat jauh.

Yaa memang jauh, tapi selagi kita kuat jalan kaki kenapa nggak, justru bagus sambil liat-liat situasi lokal sekitar area yang kita lewati, who knows you might bumps up into or found something great, that's the most interesting part of walking around :).



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »