About Backpackers 3

Dari Terminal Sukabumi kami berlima menaiki bus menuju Terminal Bogor. Dan dari sana perjalanan akan dilanjutkan dengan bus lainnya untuk menuju pelabuhan Merak, jembatan menuju pulau Sumatera di seberang.

Saya sangat bersemangat, hasratku menggebu-gebu, gairah meluap-luap (berlebihan banget ya..). Saya bersemangat karena inilah pertama kalinya akan pergi lumayan jauh. Menyebrang pulau! Bandar Lampung kawan! Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau kami akan pergi ke kota ini dan dengan sangat mendadak pula!

Hari sudah gelap saat kami turun bus di pelabuhan Merak. Terlihat antrian panjang truk dan bus untuk masuk ke kapal ferry yang akan membawa kami menuju pelabuhan Bakauheni di seberang sana. Kami bergegas membeli tiket, nama kapal laut yang akan kami tumpangi adalah Rajabasa, harganya 1500 perak untuk kelas 3. Berfoto di atas kapal tidak mungkin dilewatkan sambil berjalan-jalan berkeliling melihat-lihat suasana. Memang tidak mirip dengan megah dan mewahnya Titanic, tapi tetap saja saya excited. Inilah pertama kalinya saya naik kapal laut. Benar-benar Asik!

Sampai di pelabuhan Bakauheni kami disambut timer-timer dan kernet bus yang menarik-narik tangan, tubuh, dan baju penumpang yang baru saja turun untuk 'singgah' di busnya. Kami mengikuti Rena yang tentunya sudah hapal dengan kampung halamannya sendiri. Tak lama sebuah bus ukuran sedang bercat coklat sudah melaju membawa kami dan penumpang lainnya. Perjalanan cukup jauh, naik turun, berkelok-kelok, sampai akhirnya kami turun di sebuah pertigaan jalan.

"Rumahku masih jalan lagi kesana" Kata Rena.

Bagai kucing yang digiring mengikuti bau ikan, kami mengikuti Rena. Namanya juga kucing pendatang, hehehe... ternyata jarak dari turun bus tadi lumayan jauh, menurut Rena seharusnya sih ada angkot, tapi sudah tidak ada yang beroperasi lagi berhubung saat itu sudah tengah malam.

Jadilah kami berliburan di rumah Rena selama 3 hari, saat itu film di kamera sudah habis dipakai sewaktu di kapal, tampaknya harus cuti foto-foto lagi. Hari pertama di Lampung, kami benar-benar mengetahui bahwa semua sudah mepet parah kondisi keuangannya. Yang paling parah adalah Chandra, dia benar-benar kering kerontang gundah gulana karena sakunya benar-benar kosong melompong. Kamipun berembuk berbagi pendapat agar semua bisa saling membantu.

Rena berbaik hati untuk bersedia menanggung ongkos kami berempat. Hampir saja kami melompat bahagia ketika dia melanjutkan bahwa ongkos tersebut hanya untuk sampai di pelabuhan Merak. Artinya dari Merak kami harus berjuang sendiri menuju Jakarta. Kembali berunding akhirnya kami merencanakan untuk menumpang kendaraan bak terbuka setibanya di Merak nanti, toh sebelumnya kami pernah melakukan hal itu waktu di Sukabumi.

Dan memang, begitu tiba di Merak, aku, Chandra serta dua orang temanku Imam dan Tri berpisah angkutan dengan Rena yang ditemani pacarnya. Mereka melanjutkan perjalanan dengan bus dan kami akan mengompreng kendaraan bak terbuka. Maka dimulailah pencarian angkutan yang bisa ditebengi gratis. Setelah berjalan cukup lama sebuah mobil bak terbuka yang lewat bersedia kami tumpangi, walaupun ternyata cuma sampai beberapa kilometer saja dari pusat pelabuhan.

Jadilah kami turun dan kembali berjalan kaki, sampai kemudian kelelahan dan memberanikan diri meminta minum di sebuah warung tegal. Yup, kami harus hemat. Sepertinya sang penjaga warteg terenyuh mendengar cerita kami yang kehabisan ongkos, dan merelakan beberapa ribu untuk tambahan bekal ongkos kami. Alhamdulillah.. ada mas-mas warteg yang baik hati di sekitar Cilegon. Mudah-mudahan wartegnya laris manis tanjung kimpul ya mas.

Kamipun memutuskan untuk naik bus, paling tidak sampai mencapai kota Serang. Sang kenek cuma bisa marah-marah karena ongkos normal untuk empat orang gemblung kurang. Cuma pasang tampang pura-pura bodoh tapi galak dan semua beres. Di Kota Serang kami turun dari bus dan melanjutkan berjalan kaki sambil mencari-cari omprengan. Sepanjang jalan, berjejer warung-warung makan. Perut menunjukkan tanda-tanda mulai lapar dan kembali haus. Mau beli? boro-boro, lha sekarang saja kita sedang jalan kaki mau ke Jakarta!

Di sekitar tempat itu kami sempat beristirahat sebentar, Chandra sedang menawarkan sweaternya untuk dijual ke tukang becak. Benar-benar sudah kepalang bokek. Kelihatan kalau sang tukang becak kurang berminat dengan sweater, Chandra tidak mau menyerah begitu saja, Dia mulai menawarkan celana jeans cadangannya. Sayang, sang tukang becak tidak bergeming.

Akhirnya setalah berjalan berkilo-kilo, kami sampai di pintu tol Serang. Harapan kembali menguat karena kami pikir di sini akan mudah untuk mencari omprengan truk-truk yang ke arah Jakarta. Ternyata pikiran yang salah. Pihak jasa marga tidak mengijinkan penumpang naik di belakang truk karena dinilai membahayakan. Jadilah kami benar-benar hampir kehabisan akal. Kami memutuskan untuk beristirahat di mushalla pintu tol itu. Haus, capek, lapar jadi satu. Shalat dulu lah, meskipun cuma dapat Isya. Dan kami pun tertidur di situ.

Keesokan pagi ketika bangun, kami kembali berpikir bagaimana cara naik omprengan ke Jakarta. Saat itu aku melihat Chandra sedang bicara dengan seorang petugas polisi bermotor besar yang sedang istirahat di dekat situ. Gilanya, Chandra juga terlihat menawarkan celana jeansnya ke pak polisi!. Jeansnya dibuka-buka, di elus-elus, sambil merayu pak polisi untuk membelinya. Sepertinya tidak salah dia tinggal disekitar Mester Jatinegara, naluri menjual barangnya besar, meskipun karena kepepet. Pak polisi menolak membeli jeans chandra, tapi lalu dia memberi uang. Rp. 8000 perak cing! Sambil memberi kami nasehat wasiat "Makanya kalo ngga punya ongkos jangan nekat ke Lampung!" Iya deh pak.. pokonya hatur nuhun pisanlah. 

Bergegas kita menuju pintu tol dan mencegat bus. Dengan Rp. 8000 untuk 4 orang sampai Jakarta, maka cuma bus Ekonomi non AC yang kita mampu. Sialnya bus selalu penuh, sampai sebuah bis Patas AC Patra Jasa Merak-Kp. Rambutan berhenti dan kernetnya mengajak naik, merasa mendapat kesempatan, kami coba menawar ongkos menjadi Rp. 8000 untuk berempat, entah karena kasihan atau memang penumpang sedang sepi, sang kernet setuju saja.

Akhirnya kita mendapat tumpangan ke Jakarta, naik bus AC pula. Sampai di Jakarta sekitar 2 jam kemudian kami turun di daerah Tebet, Gatot Subroto, dari situ kami bergegas pulang ke rumah masing-masing, Aku Ke Kampung melayu, teman-temanku yang lain ada yang di daerah Bukit duri, Tebet dan Pengadegan. Kembali berjalan kaki, karena uang kami memang sudah benar-benar habis. Di saku celanaku cuma ada uang logam seratus perak yang lalu kusumbangkan ke sebuah warung untuk ditukar Bakpia.

FYI. Beberapa hari setelah itu, kami semua yang berangkat ke Sukabumi dipanggil menghadap Kepala Sekolah untuk di sidang, karena dianggap melanggar ketentuan sekolah, dan orang tua kami sudah tentu ikut dipanggil... hehehe...

Yang penting pengalamannya Bung!

Post a Comment

0 Comments