About Backpackers 2

10:56 PM 0 Comments A+ a-

Dengan diiringi derai tawa riang dan senandung masa puber, berangkatlah kami menuju Sukabumi. Jalur pertama adalah dengan kereta api listrik dari stasiun Tebet menuju kota Bogor dan akan disambung dengan kereta lain yang bertujuan langsung ke Sukabumi. 

Perjalanan itu pun normal-normal saja, sekumpulan anak-anak ABG yang berangkat bergerombol pagi-pagi, kerepotan membawa ransel besar-besar, mini compo di tangan, gitar yang ditenteng dan alat-alat perkemahan menggantung di sekujur tubuh tidak terlihat aneh bukan?.

Sejak beberapa hari sebelum keberangkatan, semua sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terakhir kali kami bepergian ke Sukabumi bersama-sama adalah sekitar setahun sebelumnya, dengan tujuan rumah nenek temanku yang sekarang juga akan ikut lagi. Saat itu kami sepakat membeli topi baret untuk dipakai sama-sama di perjalanan nanti, entah kenapa saat itu sepertinya keren pakai topi baret, mungkin supaya terkesan gagah berani serasa tentara kali ya haha..

Ketika hari H untuk pembagian topi baret itu tiba, semangat kian tinggi untuk segera memakainya. Kawanku yang bertindak seakan sebagai ketua regu menyerahkan sebuah topi baret yang kutunggu-tunggu sejak beberapa hari lalu. Tanganku dengan sigap menyambut sodoran tangannya untuk mengambil topi baret kuning tersebut.

He, wait a minute...... kuning?? yup, its yellow allright... damn!

Kenapa harus baret kuning sih. Aku berharap topi baretnya merah, biru or ungu. Meskipun saya dengar baret kuning itu mirip-mirip resimen mahasiswa jaman dulu, saya kurang suka kuning untuk sesuatu yang akan aku pakai. Kalau di Malaysia sekarang, baret kuning itu momok bagi TKI illegal, hati-hatilah saudara-saudarak TKI ilegal di Malaysia. Yah, apa mau dikata, berdasarkan info yang diterima bahwa warna yang ada memang tinggal satu itu saja. Kuning.

Untuk perjalanan kali ini sebenarnya kita juga sudah berniat membeli baret lagi, dan bukan warna kuning pastinya, tapi sayangnya stok dari si pedagang sedang kosong. Ya sudah, yang penting adalah kami tetap jadi liburan, dengan atau tanpa topi baret! Yippii.

Rombongan sampai di Sukabumi siang hari menjelang sore. Dari stasiun kereta kami bergegas naik angkot menuju lokasi kemping. Ternyata dari tempat turun angkot kami masih harus berjalan lagi menuju lokasi yang bisa dipakai untuk berkemah, di awal-awal jalan menuju ke sana ada pos jaga yang merupakan tempat untuk membayar ongkos masuk ke area kemping alias ongkos gelar tenda.

Suasana merangkak menuju gelap saat kami menemukan satu spot yang agak cocok setelah berjalan beberapa lama. Perjuangan memasang tenda dimulai. Menggelar, memukul pasak, meratakan, menyebar garam di sekitar lokasi serta merapikan tetek bengek yang sudah di bawa dari Jakarta sejak pagi buta. 

Suasananya memang sungguh menyenangkan, kiri-kanan pepohonan lebat, suasana sejuk, banyak tenda-tenda lain juga milik orang-orang lain. Sambil berkumpul dan bercerita ada yang bermain gitar, memasak indomie atau membuat kopi susu yang nikmatnya tiada tara di saat-saat semacam itu. Kami mengobrol kesana-kemari sampai larut malam sambil sesekali diselingi lengkingan suara-suara sumbang kami bernyanyi.

Keesokan pagi kami bangun dengan semangat merasakan udara pagi yang segar dan hangatnya sang surya. Setelah makan, kegiatan selanjutnya adalah berjalan-jalan melihat suasana sekitar. Tapi ternyata cuma sampai disitu kawan. Atas keputusan bersama, kami memutuskan untuk menyudahi acara kemping siang itu juga dan akan dilanjutkan menuju tempat lain. 

Akhirnya rombongan terpecah dua, yang satu pergi ke daerah lembur alias perkampungan untuk menginap lagi di rumah nenek teman saya, dan rombongan kedua yang terdiri dari saya dan empat temanku, yang salah satunya adalah perempuan bernama Rena memutuskan untuk pergi ke Lampung, menuju rumah orang tua Rena.

Keputusan yang rada nekat, dengan ongkos yang super ketat di saku.

Lampung kami datang.